TIPS: Rangkuman ini hanya sebagai pemahaman secara umum. Pastikan Anda juga membaca BMP (Buku Materi Pokok) versi cetak atau digital di Ruang Baca Virtual (RBV) untuk pemahaman lebih mendalam.
DILARANG: Memperjualbelikan seluruh konten atau latihan soal yang terdapat di portal ini. Pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Determinan
Kegiatan Belajar 1: Pengertian Determinan
A. Definisi Determinan
1. Determinan Matriks 1×1: Untuk A=[a11], didefinisikan detA=a11.
2. Minor dan Kofaktor: Minor Mij dari unsur aij pada matriks A adalah determinan matriks yang diperoleh dengan menghapus baris ke-i dan kolom ke-j pada A. Kofaktor Cij didefinisikan: Cij=(−1)i+jMij
3. Definisi Induktif: Untuk matriks A berukuran n×n, determinan didefinisikan secara rekursif: detA=∑j=1naijCij(pembabaran menurut baris ke-i)
4. Pola Papan Catur: Tanda kofaktor mengikuti pola tanda +,−,+,−,… seperti papan catur, ditentukan oleh (−1)i+j.
B. Ekspansi Menurut Baris dan Kolom
1. Pembabaran Menurut Baris ke-k:detA=∑j=1nakjCkj,k=1,2,…,n Pembabaran dapat dilakukan menurut baris manapun.
2. Pembabaran Menurut Kolom ke-k:detA=∑i=1naikCik,k=1,2,…,n Pembabaran juga dapat dilakukan menurut kolom manapun.
3. Strategi Efisien: Pilih baris atau kolom yang memuat paling banyak unsur nol untuk meminimalkan jumlah perhitungan. Unsur nol menyebabkan suku pada jumlahan bernilai nol, sehingga tidak perlu dihitung.
C. Determinan Matriks Segitiga dan Matriks dengan Baris/Kolom Nol
1. Matriks Segitiga: Jika A matriks segitiga (atas, bawah, atau diagonal), maka determinannya adalah perkalian unsur-unsur diagonal: detA=a11⋅a22⋯ann=∏j=1najj
2. Baris Nol atau Kolom Nol: Jika matriks A mempunyai baris nol atau kolom nol, maka detA=0. Hal ini karena pembabaran menurut baris/kolom nol menghasilkan jumlahan yang semuanya nol.
3. Keuntungan Matriks Segitiga: Untuk mempercepat perhitungan, ubah matriks menjadi segitiga menggunakan operasi baris elementer, lalu kalikan unsur diagonal.
Kegiatan Belajar 2: Sifat-sifat Determinan
A. Determinan Transpose
1. Teorema: Untuk matriks A berukuran n×n: det(AT)=detA Determinan tidak berubah oleh transposisi.
2. Akibat: Semua sifat yang berlaku untuk baris juga berlaku untuk kolom, dan sebaliknya.
B. Pengaruh Operasi Baris Elementer
1. Pertukaran Dua Baris (Kolom): Jika B diperoleh dari A dengan mempertukarkan baris ke-k dan baris ke-m, maka: detB=−detA
2. Perkalian Baris (Kolom) dengan Konstanta: Jika baris ke-k matriks A dikalikan dengan bilangan p menghasilkan B, maka: detB=p⋅detA Akibat khusus: untuk matriks n×n, det(pA)=pndetA.
3. Penambahan Konstanta Kali Baris Lain: Menambahkan baris ke-i dengan k kali baris ke-j (i=j) tidak mengubah determinan: detB=detA
4. Akibat Penting: Jika matriks A mempunyai dua baris (atau kolom) yang identik, maka detA=0. Sebab pertukaran dua baris yang sama tidak mengubah A, tetapi mengubah determinan menjadi negatifnya, sehingga detA=−detA⇒detA=0.
C. Determinan Perkalian Matriks
1. Teorema: Untuk matriks bujursangkar A dan B berukuran sama: det(AB)=detA⋅detB
2. Catatan:det(BA)=detB⋅detA=detA⋅detB=det(AB), walaupun BA=AB pada umumnya.
3. Akibat untuk Pangkat:det(Ak)=(detA)k untuk k bilangan asli.
D. Hubungan Determinan dengan Kesingularan
1. Teorema Utama:
detA=0⟺A singular (tidak punya invers).
detA=0⟺A tak singular (punya invers).
2. Akibat untuk Invers: Jika A tak singular, maka: det(A−1)=detA1=(detA)−1
3. Bukti Konsep: Jika A singular, matriks eselon tereduksi A memuat baris nol, sehingga detA=0. Jika A tak singular, A=E1−1⋯Ek−1 dengan Ei matriks elementer, dan setiap detEi=0, sehingga detA=0.
Kegiatan Belajar 3: Penerapan Determinan
A. Invers Matriks Menggunakan Adjoint
1. Definisi Adjoint: Adjoint matriks A, ditulis adj A, adalah transpose dari matriks kofaktor A. Unsur pada baris ke-i kolom ke-j dari adj A adalah kofaktor Cji dari matriks A.
2. Rumus Invers: Jika A tak singular, maka: A−1=detA1adj A
3. Hubungan Fundamental: Terbukti bahwa A⋅adj A=(detA)⋅I, yang menghasilkan rumus invers di atas.
4. Contoh: Untuk A=12−1211012, hitung kofaktor setiap unsur, susun matriks kofaktor, transposikan untuk mendapat adj A, lalu bagi dengan detA.
B. Aturan Cramer
1. Rumus: Untuk sistem AX=B dengan A matriks tak singular berukuran n×n, komponen ke-k jawab: xk=detAdetAk,k=1,2,…,n di mana Ak adalah matriks yang diperoleh dengan mengganti kolom ke-k pada A dengan kolom B.
2. Batasan: Aturan Cramer hanya berlaku untuk sistem dengan detA=0 (jawab tunggal). Jika detA=0, aturan Cramer tidak dapat digunakan — jawab bisa tak ada atau lebih dari satu.
3. Kesimpulan untuk Sistem dengan Matriks Koefisien Bujursangkar:
detA=0 → sistem punya tepat satu jawab.
detA=0 → jawab tidak tunggal atau tidak ada.
C. Penerapan pada Ilmu Ukur Analitik
1. Persamaan Garis Melalui Dua Titik: Garis melalui (x1,y1) dan (x2,y2) ditentukan oleh: xx1x2yy1y2111=0 yang menghasilkan persamaan ax+by+c=0.
2. Persamaan Lingkaran Melalui Tiga Titik: Lingkaran melalui (x1,y1), (x2,y2), (x3,y3) ditentukan oleh: x2+y2x12+y12x22+y22x32+y32xx1x2x3yy1y2y31111=0 yang menghasilkan persamaan a(x2+y2)+bx+cy+d=0.
3. Persamaan Bidang Melalui Tiga Titik: Bidang melalui (x1,y1,z1), (x2,y2,z2), (x3,y3,z3) ditentukan oleh: xx1x2x3yy1y2y3zz1z2z31111=0 yang menghasilkan persamaan ax+by+cz+d=0.
4. Prinsip Umum: Persamaan geometri diturunkan dari syarat sistem persamaan linear homogen memiliki jawab tak trivial, yang ekuivalen dengan nolnya determinan matriks koefisien.