Kembali ke Modul
Pancasila

Modul 5: Pancasila sebagai Sistem Filsafat

Fauziby Fauzi

rangkumanut.my.id

TIPS: Rangkuman ini hanya sebagai pemahaman secara umum. Pastikan Anda juga membaca BMP (Buku Materi Pokok) versi cetak atau digital di Ruang Baca Virtual (RBV) untuk pemahaman lebih mendalam.

DILARANG: Memperjualbelikan seluruh konten atau latihan soal yang terdapat di portal ini. Pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Modul 5: Pancasila sebagai Sistem Filsafat

Kegiatan Belajar 1: Memahami Sistem Filsafat

A. Konsep Dasar Filsafat

1. Definisi Etimologis

  • Berasal dari bahasa Yunani, "Philein" (mencintai) dan "Sophia" (kebijaksanaan).
  • Secara harfiah, filsafat berarti "Mencintai Kebijaksanaan" (Love of Wisdom). Seorang filsuf adalah pencari kebenaran yang hakiki.

2. Karakteristik Berpikir Filsafat Berpikir filsafat berbeda dengan berpikir biasa karena memiliki ciri-ciri:

  • Radikal: Berpikir sampai ke akar-akarnya (radix), tidak hanya di permukaan.
  • Sistematis: Berpikir secara teratur, logis, dan saling berkaitan antar bagian.
  • Universal: Menyangkut hal-hal yang bersifat umum dan mendasar, bukan kasus individual.
  • Kritis: Tidak menerima sesuatu begitu saja, melainkan mempertanyakan dasar-dasar kebenarannya.

3. Pancasila sebagai Philosophische Grondslag

  • Istilah ini diperkenalkan oleh Ir. Sukarno dalam sidang BPUPK 1 Juni 1945.
  • Pancasila adalah jiwa, pikiran yang sedalam-dalamnya, dan hasrat yang menjadi fundamen bagi negara merdeka.

Kegiatan Belajar 2: Menganalisis Pancasila sebagai Sistem Filsafat

A. Pancasila sebagai Kesatuan yang Organis

Menurut Notonagoro, sila-sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang bersifat organis. Artinya, setiap sila tidak dapat berdiri sendiri dan tidak dapat dipisahkan. Jika satu sila diabaikan, maka esensi Pancasila sebagai sistem akan hilang.

B. Susunan Hierarkis-Piramidal

Sila-sila Pancasila memiliki urutan logis yang saling mengikat:

  • Sila 1 (Ketuhanan): Menjadi basis atau landasan yang menjiwai seluruh sila lainnya.
  • Sila 2 sampai 5: Merupakan pengkhususan atau penjabaran dari sila-sila sebelumnya.
  • Bentuk Piramidal: Sila pertama menempati posisi puncak (paling luas maknanya) yang mendasari sila di bawahnya, sementara sila kelima adalah tujuan akhir yang dijiwai oleh keempat sila di atasnya.

C. Landasan Filosofis Pancasila

Analisis filsafat Pancasila dapat dilihat dari tiga landasan utama:

1. Landasan Ontologis (Hakikat Keberadaan)

  • Membahas tentang "apa" hakikat dari subjek pendukung Pancasila.
  • Subjek pendukung Pancasila adalah manusia Indonesia. Manusia yang memiliki hakikat "monopluralis" (terdiri dari susunan kodrat jiwa-raga, sifat kodrat individu-sosial, dan kedudukan kodrat makhluk Tuhan-mandiri).

2. Landasan Epistemologis (Hakikat Pengetahuan)

  • Membahas "bagaimana" sumber dan cara mendapatkan pengetahuan Pancasila.
  • Pancasila bersumber dari nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri (Local Genius dan Local Wisdom). Pengetahuan ini digali dari adat istiadat, kebudayaan, dan religi yang sudah ada sejak lama.

3. Landasan Aksiologis (Hakikat Nilai)

  • Membahas tentang "untuk apa" atau kegunaan/nilai yang terkandung dalam Pancasila.
  • Pancasila mengandung nilai-nilai kerohanian yang lengkap:
  • Nilai Kebenaran: Bersumber pada akal manusia.
  • Nilai Keindahan: Bersumber pada perasaan.
  • Nilai Kebaikan/Moral: Bersumber pada kehendak.
  • Nilai Religius: Nilai tertinggi yang bersumber pada keyakinan terhadap Tuhan.

D. Urgensi Pancasila sebagai Sistem Filsafat

  • Menjadi pertanggungjawaban rasional atas kedudukan Pancasila sebagai dasar negara.
  • Menjadi filter terhadap berbagai aliran filsafat dan ideologi dunia (seperti liberalisme atau komunisme) yang masuk ke Indonesia.
  • Memberikan landasan bagi pembangunan karakter bangsa yang berintegritas.

Catatan: Pancasila sebagai sistem filsafat menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang memiliki "kecerdasan lokal" dalam merumuskan dasar negaranya sendiri tanpa harus meniru mentah-mentah ideologi dari luar.